Kualitas udara di perkotaan menjadi isu serius yang terus mendapat perhatian publik. Laporan IQAir tahun 2025 mencatat bahwa Jakarta menempati posisi ketiga sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di Asia Tenggara. Indeks Kualitas Udara (AQI) sering kali menembus angka 150, yang masuk kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif (sumber: https://dlhkalimantantimur.id/). Situasi ini menggambarkan bahwa upaya menjaga udara bersih bukan sekadar kebutuhan ekologis, melainkan urgensi kesehatan publik. Salah satu strategi paling efektif dan alami dalam menekan polusi udara adalah dengan memperbanyak taman kota.
Kondisi Polusi Udara di Perkotaan Saat Ini
Polusi udara di kawasan perkotaan berasal dari berbagai sumber seperti kendaraan bermotor, aktivitas industri, hingga pembakaran sampah terbuka. Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan bahwa sektor transportasi menyumbang lebih dari 60% emisi karbon di wilayah metropolitan. Akibatnya, masyarakat perkotaan semakin rentan terhadap gangguan kesehatan seperti asma, penyakit jantung, hingga gangguan pernapasan kronis.
Kondisi ini menjadi alasan utama bagi pemerintah daerah dan Dinas Lingkungan Hidup untuk menggalakkan pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Di dalamnya, taman kota memegang peranan penting karena berfungsi sebagai penyerap karbon alami sekaligus penyejuk mikroklimat.
Mengapa Taman Kota Penting bagi Kualitas Udara
Taman kota bukan hanya ruang publik untuk bersantai, tetapi juga sistem ekologis yang membantu menurunkan kadar polusi udara. Vegetasi di taman memiliki kemampuan menyerap gas berbahaya seperti karbon dioksida (CO₂), nitrogen oksida (NO₂), dan sulfur dioksida (SO₂). Selain itu, dedaunan berfungsi sebagai penyaring partikel debu dan logam berat.

Studi kolaborasi antara Universitas Indonesia dan Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta tahun 2024 menemukan bahwa wilayah dengan proporsi RTH minimal 30% memiliki kadar PM2.5 lebih rendah hingga 40%. Angka ini cukup signifikan dan menunjukkan peran taman kota sebagai solusi ekologis yang nyata dalam memperbaiki kualitas udara.
Mekanisme Alamiah Taman Kota dalam Menyaring Polusi
Fungsi taman kota dalam menyaring polusi terjadi melalui beberapa mekanisme biologis alami. Setiap jenis vegetasi berkontribusi berbeda terhadap stabilitas udara di sekitarnya.
1. Fotosintesis dan Penyerapan Karbon
Tanaman menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen melalui fotosintesis. Proses ini membantu menurunkan kadar gas rumah kaca yang menyebabkan efek pemanasan global. Pohon besar seperti trembesi, angsana, dan beringin diketahui mampu menyerap ratusan kilogram CO₂ per tahun.
2. Vegetasi Sebagai Filter Partikulat
Daun tanaman berfungsi sebagai penyaring alami. Permukaannya yang kasar menahan partikel debu dan polutan logam berat. Setelah hujan turun, partikel tersebut terbawa ke tanah dan udara kembali bersih. Mekanisme sederhana ini menjelaskan mengapa area dengan vegetasi rapat cenderung memiliki kualitas udara lebih baik.
3. Efek Pendinginan Mikroklimat Kota
Vegetasi mampu menurunkan suhu udara sekitar 2–4°C melalui proses evapotranspirasi. Penurunan suhu ini membantu mengurangi efek urban heat island, di mana panas terperangkap di area yang didominasi beton dan aspal. Selain membuat udara lebih sejuk, efek ini juga meningkatkan sirkulasi oksigen di lingkungan padat penduduk.
Desain Taman Kota yang Efektif Mengurangi Polusi
Tidak semua taman kota memiliki kemampuan yang sama dalam menekan polusi. Efektivitasnya tergantung pada desain, jenis vegetasi, serta lokasi penempatan. Prinsip desain hijau merekomendasikan penggunaan tanaman dengan daun lebat dan tahan polusi seperti flamboyan, ketapang kencana, serta tabebuya.
Taman kota yang efektif sebaiknya berada di area padat lalu lintas atau sekitar kawasan industri. Misalnya, taman vertikal dan jalur hijau (green belt) di sepanjang koridor utama kota dapat menurunkan kadar polutan hingga 15%. Konsep serupa telah berhasil diterapkan di Singapura dan Seoul, di mana taman horizontal dikombinasikan dengan taman atap (rooftop garden) untuk memaksimalkan serapan polutan.
Untuk Indonesia, pendekatan ini bisa diadopsi oleh pemerintah daerah bersama Dinas Lingkungan Hidup sebagai langkah adaptif terhadap keterbatasan lahan perkotaan.
Tantangan Pengelolaan Taman Kota di Indonesia
Meski manfaat taman kota sudah banyak diakui, implementasinya di lapangan masih menghadapi kendala. Lahan yang semakin terbatas di kota besar membuat perluasan taman sulit dilakukan. Selain itu, perawatan taman sering kali kurang optimal. Sistem irigasi tidak berfungsi, pemangkasan pohon tidak teratur, dan fasilitas publik di sekitarnya sering dibiarkan rusak.
Dinas Lingkungan Hidup di berbagai daerah telah meluncurkan program rehabilitasi taman kota (Sumber: https://dlhkalimantantimur.id/). Program ini mencakup pemetaan vegetasi, penanaman kembali pohon penyerap karbon, serta edukasi warga tentang pentingnya taman sebagai paru-paru kota. Namun, partisipasi masyarakat tetap menjadi faktor penentu keberhasilan program semacam ini.
Komunitas seperti Gerakan Indonesia Berkebun telah membuktikan bahwa keterlibatan publik mampu memperpanjang umur taman kota dan menjaga fungsinya tetap optimal.
Langkah Strategis untuk Meningkatkan Fungsi Taman Kota
Mengoptimalkan fungsi taman kota membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat.
1. Kebijakan Ruang Terbuka Hijau yang Tegas
Pemerintah daerah perlu memperkuat aturan tentang proporsi minimal RTH. Pengembang perumahan dan gedung komersial harus diwajibkan menyediakan area hijau minimal 20% dari luas total lahan. Pengawasan implementasinya menjadi tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas.
2. Integrasi dengan Transportasi Publik
Membangun taman di sekitar halte, stasiun, dan terminal dapat menurunkan konsentrasi emisi kendaraan. Konsep ini tidak hanya memperindah kota, tetapi juga menciptakan zona udara bersih di sekitar area mobilitas tinggi.
3. Keterlibatan Sektor Swasta
Melalui program CSR, perusahaan dapat mengadopsi taman kota untuk dirawat dalam jangka panjang. Model kemitraan ini efektif menekan beban anggaran pemerintah sekaligus memperkuat citra korporasi yang peduli lingkungan.
4. Edukasi dan Kesadaran Publik
Masyarakat perlu memahami bahwa menjaga taman kota berarti menjaga kualitas udara yang mereka hirup setiap hari. Kampanye publik seperti gerakan menanam pohon, lomba taman hijau, dan edukasi sekolah bisa menjadi sarana efektif membangun kesadaran kolektif.
Kesimpulan
Taman kota adalah solusi ekologis yang efisien dan berkelanjutan dalam menekan polusi udara di perkotaan. Keberadaannya bukan hanya memperindah kota, tetapi juga memberikan dampak langsung terhadap kesehatan, iklim mikro, dan kenyamanan hidup warga. Dengan dukungan kebijakan dari Dinas Lingkungan Hidup, partisipasi masyarakat, dan tanggung jawab sektor swasta, taman kota dapat menjadi instrumen strategis untuk menciptakan udara bersih di masa depan.
Meningkatkan jumlah dan kualitas taman kota berarti berinvestasi pada masa depan yang lebih sehat, hijau, dan berkelanjutan bagi generasi perkotaan.






Tinggalkan komentar